(Cerpen) Damai Bersama Bayangmu


DAMAI DALAM BAYANMU

Juju Juriyah

 

Menatap daun yang bergerak melambai, bahkan menari bersama angin di siang ini. Aku terpana dengan hijaunya yang begitu lembut dan sejuk, dan tak sengaja ku melihat lewatnya sebuah senyuman yang pernah sering terlihat di waktu yang telah lewat, Benarkah senyum itu, senyumnya. Tuhan ada apa denganku ini. Kualihkan pandangan ini bergeser ke aerospace ke  luasnya langit dan nampak bergerak awan lalu tergambar seperti sebuah wajah yang sering menghampiriku dulu.Wajah yang begitu kasih dan lembut selalu dalam menghadapi sikapku yang kadang tak pedulikan wajah itu.

                Aku bukan tak menyederhanakan kata-kataku, bebasku berbicara dan bebasku akan angan dan impianku. Bukan pula menurunkan egoku akan keberadaanku yang seakan seperti angsa yang asing terhadap pasangannya yang sejati. Aku hanya ingin bersikap sebagaimana diriku, seperti ini apa adanya. Sepantas bersikap dan berlaku sebagaimana diriku yang ada kekurangan juga ada kelebihannya. Dan ternayata tak kusadari sikap-sikap tersebut  membuatmu tak nyaman bersamaku. ‘Aku tidak paham, aku sudah persiapkan semuanya untuk bisa menghadiri pernikahan temanku, tapi gampangnya kau bicara tidak bisa menemaniku” masih kuingat kata-katanya dahulu yang begitu memendan kekecewaan akan sikap tidak pekaku. Aku hanya terdiam dan kukatakan maafku, tapi kamu hanya diam dan pergi.

            Aku tidak mau perasaanku mengalahkan akal sehatku, ketika saat itu aku memiliki impian yang berbeda dengannya. Dan aku pun bebas melangkah tanpa menimbang geliat suara hatimu yang begitu penuh pengharapan kepadaku. Gelombang alunan suara jiwaku ternyata lebih besar seperti riaknya ombak samudra di sana, sehingaga aluanan desiran angin suaramu tak terdengarkan olehku. Aku tetap melangkah bebas dengan sikap selfish yang kumiliki.

Aku bukan wanita pada umumnya yang katanya mengutamakan perasaan. Hati permpuan yang begitu perasa dan manja, Jiwa perempuan yang lemah membutuhkn suatu tonggak untuk menopangnya. Hati perempuan yang sepantasnya cantik dan berbisik sendu, telah terabaikan olehku. Hatiku diibaratkan seperti kaca yang tebalnya 80 mili sehingga begitu keras walau telah memantul bayangan indah disana.  Suatu  ketika kau pasangkan cincin cantik di jari manisku, yah merekah senyumku saat itu dan  kau pun menyambut dengan kata-kata jelita yang begitu menggoda anganku akan kebersamaan bersamamu. “Ku ingin cincin ini tak kan pernah terlepas dari jari cantikmu ini sampai kapanpun” Pintanya. Aku mendengar begitu bahagia dan jiwa ini bagaikan sedang menari di antara pelangi yang timbul setelah hujan deras. Itu peasaan alami seorang perempuan yang sedang dikitari sebuah cinta dari seorang lelaki. Untuk beberapa waktu kita bak sepasang merpati yang terbang di awan dan menyanyikan sebuah melodi indah menghiasi langit..

            Mataku menatap tajam akan kehidupan yang sering membayang di benakku, sebuah kehidupan yang kuharap-harapkan dalam idealis pemikiranku. “Bisa yah kau terima tawaanku ini” Ucap seorang teman saat itu. Dia adalah seorang yang sukses dalam bidang intrepreneur, dia sudah melanglang buana di setiap negeri yang mengundagnya untuk memberi materi-materi publik speaking yang banyak orang mengharapkan memilki keahlian seperti itu. Entah mengapa dia begitu percaya bahwa aku bisa seperti dia, aku  diminta masuk ke firmanya untuk bisa mengikutti langkahnya menjadi seorang intrepreneur handal. Karena sudah teramat sibuknya sehingga dia ingin aku berbagi tugas dengannya. Aku tiba-tiba mengangguk iya, kata-katanya memabukkan diriku akan angan kesuksesan sepertinya. Anganku mengaburkan pandangan akan cicin yang terpasang di jari manisku yang jelita.Aku bahkan melupakannya. Kusiap  dan tanpa ragu memeprsiapkan langkahku bersama temamku ini.

Di waktu dimana kebarangkatku ke kota lain untuk pindah profesiku yang selama ini aku geluti sebagai pelatih seni di sebuah kelompok teater di kotaku. Dengan begitu gampangnya ku bicara denagannya bahwa aku harus berangkat menggapai cita-citaku ini. “Maafkan aku besok a harus berangkat Mas” Dia menatap aneh tak bersuara dia diam seribu bahasa.  lalu kuberikan cicin pemberiannya. “tidak kah Kau bisa pertimbangkan lagi keputusanmu Alisia” Pintanya. Tapi aku menggelang tak bisa. Dan Aku pun pergi melangkah meninggalkannya walau dia memintaku berhenti, aku tetap melangkah pergi. Langkahku dingin melampaui gunung es, begitu tangguh tak terhentikan dan asaku tak terbantahkan. Walau beningnya air mata seakan menyiramiku dan masih kurasa hangatnya, Lethologica seperti menguasai diriku. Aku tetap berjalan. Gejolak jiwa ini terus tak terbendung berjalan lurus, Karena hatiku berkata bahwa hidup ini keras dan waktu tak kan toleran

Sikapku tak hentinya seperti seorang ksatria yang tak takut apapun.yang selalu menang  dalam setiap kompetisi. Banggaku dengan rasa menangku Sehingga menganggap hadirmu tak ada artinya apa-apa. Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu, namun saat itu begitu adanya tak bisa terelakan dan tak bisa tersandingkan dengan ucapan-ucapan lembutmu dan santun bicaramu juga manis senyummu. Saat ini entah mengapa semua itu bermuculan bahkan berlomba-lomba keeksistannya dalam pikiranku.

Sebuah kesuksesan yang kuraih menjadikanku merasa memiliki segala yang kuingin, teman, rekan bisnis, bahkan para pengikutku di IG, FB dan twitter, aku menjadi seorang intrepreuner yang  katanya hebat seperti temanku, banyak prestasi yang kuraih. Kenyataannya tak seindah anganku dahulu. Sebuah rumah tangga yang kubangun bersama seseorang yang kukenal ketika aku sudah terkenal seperti ini ternyata banyak sekali aral melintang yang kami hadapai. Pekerjaanku yang melanglangbuana membuat suamiku tak bisa bertahan sehingga dia lebih memilih berpisah denganku dan hidup bersama wanita pilihannya. Pahit dan tragis kehidupan rumah tanggaku ini. Bisa dikatakan sebuah pengorbanan yang bisa dilakukan oleh seorang yang egois ini. Dan aku tetap besikap eccedentesiast.

Banyak perumpamaan-perumpaan yang bersliweran dalam hatiku kala ini, di saaat aku sendiri mengingatmu penuh seluruh, Ah jadi seperti puisi khairil anwar saja dan aku tersenyum sendiri. Berdatangan kenangan besamamu di tengah munculnya rasa sesal yang menyelubung hati.  Terjerat rasa angkuh dan sombongku saat itu, aku bebas berbicara, aku tidak berpikir kau suka atau tidak Mas. Aku bebas melangkah karena ku tak pernah menganggapmu tangguh dalam mendampigiku, aku dikelilingi rasa bahwa dirimu seperti tak pantas untukku yang saat ini ketika kegagalan rumah tanggaku terbesit rasa untukmu dan kukatakan dari lubuk hati terdalamku bahwa kau pantas untukku, bahkan kau tidak pantas menerim sikap egoisku. Aku terlena dengan sikap mengalahmu.

Dan biarlah itu berjalan. Biarlah aku disibukkan dengan bayangan-bayangan masa lalu bersamamu dan itu menembus tirai kesedihan dalam diriku sehingga aku merasa tenang dengan hanya mengingatmu. Sudah lama pula sebelum kau menikah memang kau menghubungiku bahwa kau akan menikah, dan saat itu aku tak menghalangimu meski aku tahu kau ingin sekali dihalangi olehku. Karena pada saat itu aku masih teramat sebuk mengejar impianku.

Kini kau bersamanya, perasaan adronitis sedang bertahta dalam diriku.  Dan aku sendiri di sini  tetap bersama canda-candamu yang masih dalam ingatanku. Itu akan tetap berada di sana dalam kepalaku. Aku tak ingin melepasnya. Biar aku merasakan indahnya bersamamu walau dalam melodi anganku. Entah mengapa…..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usaha Penerbitan Buku

(PUISI) KEANGKARAAN

Pentingkah Proofreading?