(Cerpen) KUIRINGI LANGKAHMU DENGAN DOA
Relung hati terdalam inginnya menyibak tabir rahasia kehidupan yang semakain tak jelas kapan bisa kutemui. Lalu lalang peristiwa terus berjalan dengan egonya tanpa melihat apa yang dirasakan hati. Sedang awan masih terus bergerak seirama angin begitu kompaknya dan matahari seakan berdiskusi dengan mendung untuk bergantian menonton hiru pikuk dunia ini.
Dunia, yah sebuah tempat yang penuh kisah, bermunculan kisah sedih, bahagia, lucu, tragedi, bahkan kemunafikanpun bertandang dengan yakinnya. Semua mahluk memerankan perannya masing-masing dengan segala komitmen sejak zaman azali. Ada satu mahluk yang tidak bisa komitmen setelah dia menginjakkan kakinya di dunia yang sarat dengan godaan dan cobaan, siapakah Dia, dia adalah manusia. Dunia manusia yang penuh dengan ego dan ketamakan yang ada dalam dirinya semakin merajai berjalan dengan waktu yang terus menghimpitnya tuk menggapai apa yang diinginkan manusia. Yah berbicara tentang mahluk ini memang luar biasa.
Sampai pada ahirnya alam ini menyapanya dengan memberi oleh-oleh mahluk kecil tak terlihat yang tiba-tiba mengejutkan manusia karena dengan dahsyatnya bisa mengobrak-abrik tatanan kehidupan manusia. Apa sih oleh-oleh alam itu yang bagitu hebat melancarkan masuk dalam kehdupan manusia ini. Yah sebuah oleh-oleh yang selama ini manusia selalu ingin mendapatkannya, mengharapkannya, sebuah tanda mata yang biasa diberikan seseorang yang merasa ada kesan buat orang lain. Dan ternyata alam ini jug memilki kesan kepada manusia sehingga dia memberi oleh-oleh tersebut.
Oleh-oleh yang semetinya sebuah sesuatu yang diharapka manisnya. Dan saat ini manusia diberi oleh-oleh yang membuat manusia untuk berpikir, menelaah dan kalaupun bisa untuk menyimpulkannya. Apakah ini oleh-oleh termanis, terpahit atau biasa-biasa aja. Manusia adalah mahluk yang Tuhan beri akal tentu saja bisa menyimpulkan mengapa alam ini memberi oleh-oleh seperti ini dengan persepsinya masing-masing. Sebuah persepsi terbentuk dengan ilmu, pengalaman yang dimiliki tiap manusia itu sendiri. Dari kapasitas masing-masing individu tentu kesimpulannya sangat bervariasi. Ahirnya bermunculan persepsi diantaranya muahasabah diri, introspeksi diri, peluang bisnis, peluang untuk memanipulasi, peluang untuk kontroversi, peluang untuk konspirasi dan lain-lain. Bermuncuan persepsi itu tak henti-hentinya semakin ramai saja dunia ini, menimbulkan banyak hal baru, baik itu membangun atau merusak, baik itu positif maupun negatif.
Covid nineteen/Covid-19. Itulah oleh-oleh yang alam berikan untuk manusia. Sebuah oleh-oleh yang berbentuk virus mematikan pada awal kemunculannya. Betapa manusia merasa begitu panik, bahkan sampai mengganngu tatanan kehidupan manusia, dengan jatuhnya korban yang tidak sedikit memunculkan ketakutan yang mencekam. Di bidang apapun terjadi perubahan-perubahan yang perlu untuk bisa melangsungkan hidupnya. Manusia tidak bisa berhenti dalam menghadapi pandemi covid 19 ini. Hidup harus terus berlanjut. Dengan naugerah akal yang Tuhan berikan ahirnya manusia bisa melanjutkan kehidupannya dengan tatanan baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Sebuah tatanan yang bisa dilakukan dengan kondisi yang menyesuaikan akibat pandemi ini adalah memaksimalkan dunia Online.
“Apa yang sedang kau pikirkan” Sapa mamahku. Kata-katanya yang lembut mengagetkanku dari terpaan-terpaan pertanyaan dan penyataan yang ada di otakku. Aku tersenyum dan menjawabnya.
“Memikirkan pandemi ini, murid-muridku, bagaimana bisa mengajar dengan maksimal kalau hanya bermodal HP untuk dijadiakan media dalam KBM, bahkan menyentuh hatinya pun semakin susah, hingga aku berpikir sejauh mana bisa ku didik karakternya?”
Mamah duduk disampingku dengan senyum yang bersahaja, beliau begitu tenang menghampiriku lalu katanya. “ Allah sudah mengatur segalanya, inilah saatnya kamu buktikan kepintaranmu dalam mengondisikan suasana belajar apapun itu bentuknya, seorang guru harus mampu menjalankan strategi mengajar untuk kepentingan murid-muridnya.”
Mamag benar, sangat benar sekali bahwa aku harus berusaha untuk bisa membuat gaya belajar yang baik untuk murid-murid sehingga dalam situasi apaun belajar akan lancar dan tujuan pun kan tercapai. Aku memluknya lalu uacapku “Makasih Mah, Makasih Banyak masukannya” Namun duka tetap sja masih terselip di hatiku.
Bahkan di dunia pendidikan pun mengalami tatanan baru. Aku adalah manusia yang berpredikat guru, sesorang yang berprofesi dalam dunia pendidikan ikut terbawa dengan kebijakan dunia pendidikan yang mau tidak mau melaksanakan semua kegiatannya dengan online. Absen online, KBM online dan kegiatan lain pun dengan online. Sebuah model baru dalam pembelajaran KBM online. Aku sempat berpikir KBM online yah material bisa saja tercapai tapai spirirtual bagaimana bisa tercapai dengan tidak adanya sentuhan langsung dari guru terhadap muridnya.
Bagaimana ini jerit hatiku, wajah-wajah polos mereka terbayang terus-menerus seperti rentetan bayangan yang mengharukan. Aku ini guru bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga mendidik, membina mereka, dari perilaku, karakter bahkan keinginan/ide-ide mereka. Mereka mahluk yang masih sangat membutuhkan bimbingan seorang guru dengan sentuhan langsungnya. Aku diam sibuk banget dengan suara-suara yang ada dihatiku dan terekam oleh otakku ini.
Murid-muridku yang kucintai kita hanya bisa berkomuniksi dengan sebuah alat yang dinamakan alat elektronik, apa itu laptop/komputer ataupun HP. Dan bagiku itu belum mewakili kehadiranku untukmu. Aku tahu di sana di tempat lain mesti aja ada seseorang yang akan mendampingimu, orang tuamu, walimu, saudaramu, temanmu, tapi bagiku kehadiranku sebagai guru kalian sangat penting buat kalian. Apakah karena besarnya cintaku atau tanggungjawabku. Bagaimana aku bisa membiarkan perasaan ini untuk tidak merasaimu. Mungkin aku sedikit berlebihan tapi itulah diriku. Aku teringat dua kalimat dalam Hyme Madrasahku. Madrsah tumpuan harapan umat membentuk jiwa berhalkurkarimah, dan kalimat Dalam bingkai citra pendidikan tuk menggapai cita-cita mulia.
Kalian murid-muridku mungkin belum berpikir sampai ke sana, tapi rasa tanggung jawabku dan cinta guru ini yang bisa berpikir sampai ke sana bagimana dengan karaktermu, perilakumu, dan cita-citamu untuk bekal di kehidupan masa depanmu. Bagaimana mungkin aku bisa lega kalau suatu masa dimana kumelihatmu dengan keadaan yang tidak seperti kalian saat ini. Kalian anak-anak berusia 15-17 tahun dengan dunia remaja yang begitu ceriah, semua ada yang bisa diandalkan, sifat manjamu dan merdekmu, dan aku tersenyum melihatmu. Dan masa di mana kalian tidak bisa seperti itu kujumpai, tentu saja senyumku tak selebar seperti sekarang ini.
Pandemi ini tak terasa sudah hampir setahun dan kita belajar berjauhan/online. Aku tidak tahu perkembanganmu sampai dimana, pandemi ini mempengaruhi karakter, perilakumu seperti apa dan mempengaruhi cita-citamu seperti apa. Aku ingin sekali bercakap langsung dengan kalian, pandemi ini sudah menentukkan jarak untuk kita. Bila teringat candamu hati ini tersenyum betapa lucunya kalian, ketika kalian perlihatkan kenakalanmu karena sifat manjamu aku pun tersenyum.ore ini aku mencoab untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Aku buka grup wa kels dan mulai menyapa mereka.
“Assalamualaikum wr.wb”
Lewat 10 menit baru ada 3 orang menjawab sapaan gurunya. Inilah yang aku khawatirkan, krisis etika, bagaimana mungkin murid-murid tak menjawab salam gurunya. Pendidikan karakter susah untuk ditanamkan di masa pandemi. Seringnya anak-anak sibuk dengan hp yang dipegangnya. Teriris hati ini.
Seorang murid ketika dia berpredikat seorang murid tentu saja dia sangat membutuhkan gurunya. Dengan harapan-harapan yang tinggi mereka mendatangi sekolah dengan bisa mendapatkan ilmu dari guru-gurunya, ,mendapatkan bimbingan dari guru-gurunya juga mendapatkan kasih sayang dari guru-gurunya, Dan masa pandemi ini membuat kalian tak bisa lagi mendapatkan dengan maksimal. Setengah hati kalian bisa berkomunikasi dengan guru-gurumu. Walau dalam hatimu ingin rasanya menumpahkan unek-unek atau perasaan apa saja terhadapnya, namun jarak ini memisahkan, katanya ada HP tapi tetap saja tidak seenak bisa bercerita langsung. Dan disinilah kalian baru mengerti sampai diamanakah kebutuhanmu terhadap gururmu.
Seorang guru juga sama, betapa selama ini dia menimba ilmu untuk apa kalau bukan untuk murid-muridnya. Seorang guru menerapkan ilmu yang didapatkannya bisa bermanfaat dengan mengantarkan kepada murid-muridnya.
Aku sebagai guru merasa bukan apa-apa tanapamu murid-muridku. Kini hanya sekitar 40% komunikasi kita. Pandemi ini aku ilhami sebagai saran introspeksi diri betapa selama ini banyaknya kekurangan akan diriku dalam melayani murid-muridku, membimbing mereka, aku berharap, komunikasi kita lewat online ini bisa mewakili kehadiranku untukmu walau pun tidak semaksimal tatap muka. Di saat ini aku mungkin tidak maksimal membimbingmu namun kuiringkan langkah kalian dengan doa terbaikku.
Angin tetap berhembus menyapa kesendirianku di halaman rumahku ini. Kupandang alam yang begitu tenang yang seakan tak peduli apa yang kurasakan. Aku mengiri pada daun yang masih bisanya menari dengan indah bersama angin. Aku ingin juga seperti awan disana yang dengan bebasnya bersenda gurau dengan angin. Sedang saat ini aku hanya bisa merasakan sapaannya dan diapun melenggang dengan tenangnya, akankah dia merasakan kegalauan hati ini?


Komentar
Posting Komentar