(Puisi) GURU IDAMAN
Gumintang kelam wajah langit malam ini
Jeritan seekor jangkrik
Melengking tanpa kompromi
Membangunkanku dalam lamunan tiada henti.
Terima kasih sang malam
Yang sudah menghadirkan jangkrik
Tuk bangunkanku dalam kelenaan yang memasung.
Picture and picture,
Sekilas kubaca sebuah model pembelajaran
Yang selama ini kuabaikan bahkan kuhilangkan dari keseharianku sebagai pengajar.
Dentingan lonceng dari alun-alun terdengar semayup
menandakan malam telah larut.
Yah aku dalam kesendirian yang membawa anganku
terbang
menyusuri perjalananku yang begitu larut dalam anomali
yang tak sejalan.
Kesadaran bermunculan dalam benakku untuk sebuah
pengakuan.
Aku guru,
Aku pendidik, dan
Aku pengajar.
Terlintas bayangan wajah-wajahnya yang lugu dan
penuh pengharapan padaku.
Wajah mereka memadu padankan kesadaran dan logika
yang pada akhirnya seirama dan mengàkui...
Salah.....
Kurang....
Kalau salah harus menjadi benar dan
Kalau kurang harus menjadi lengkap.
Paradigma nyata
berhamburan
membentuk rumus-rumus hakikat sebuah pembelajaran
yang dibarapkan.
Apakah itu....
Dan,
Akankah itu...
Dunia pengajaranku lagi buram, kusam dan berubah menjadi abu-abu.
Mengapa....
Aku monoton,
Aku otoriter,dan
Aku stagnan.
Bagaimana bisa kuantar mereka ke dunianya
Kalau bekal yang kuberikan belum pantas.
Bagaimana ku bisa mengantarnya ke sana
Sedang emosi jiwanya
belum ku asah matang
Dan..
Bagaimana ku bisa menitipkan mereka ke dunia baru.
Sedang mobilisasi yang ku berikan tidak sepadan.
Yang ada hanya ketersesatannya dalam dunia barunya.
Akhirnya ku pandangi bolak-balik buku ini.
Buku yang akan menjadikanku seorang pahlawan bagi
mereka.
Sebuah buku yang menghantarkanku menjadi guru
harapan mereka,
guru andalan mereka
dan sebagai guru kunci kesuksesannya.

Komentar
Posting Komentar