Diksi Memperindah Puisi
"Diksi" Memperindah Puisi
Pertemuan ke 18 (Jum’at, 17 Februari 2023)
Materi : Diksi dan Seni Bahasa
Pemateri : MayDearly
Moderator : Widya Arema
Pertemuan ke 18 ini diisi oleh seorang narasumber hebat, ibu
MayDearly, beliau adalah guru SMPN 1 Lebak Gedong kabupaten Lebak.
Karya-karyanya : “Jejak Pena Pengembara Aksara” dan “Kisah Para Pendaki Mimpi”,
Buku Duo “Literasi Digital untuk Abad
21`” Bersama Prof. Eko Indrajit, Buku
solo “Trik Jitu menjadi Penulis” dan” Catatan Inspiratif”. Beliau sudah menusun
10 buku antologi dan 2 buku kurator.
Pertemuan ini di awali
dengan kalimat sakti narasumber :
“Menulislah
untuk Hidup seribu Tahun”
(Maesaroh)
Kalimat motivasi di atas sangat tepat sekali sebagai kalimat yang
menyemangati setiap orang yang ingin menulis atau yang punya bakat menulis tapi
masih ada gangguan kemalasan.
Ibu narasumber mulai membuka dengan
pengertian Diksi.
Diksi adalah suatu keguatan menuis
pada fase pemilihan kata-kata yang tepat untuk menuliskan sesuatu secara
ekspresif, sehingga tulisan memiliki ruh dan karakter yang kuat yang mampu
menggetarkan dan mempermainkan emosi pembacanya.
Seorang filsuf terkenal yang Bernama
Aristoteles memperkenalkan diksi sebagai pemilihan kata dalam puisi untuk
membentuk kalimat-kalimat yang kuat dan berkarakter. Kalimat-kalimat yang
berkarakter membuat suatu Tulisan menjadi
memilki nilai rasa yang tinggi.
William Shakespeare, beliau dikenal
sebagai sastrawan yang mahir menyajikan diksi melalui naskah drama.
Upaya kiat dalam membiasakan melancarkan
menulis diantarnay dengan menulis dari apa yang kita lihat, kita rasakan dan
kita dengar. Dan dalam menulis indah
kita melibatkan panca indera.
“Menulis
itu tidak sulit, yang sulit adalah tidak ingin memulai”
Lima panca indera yang kita libatkan
dalam menulis adalah :
1)
Sense of touch
Menulis
dengan melibatkan indera peraba.
Contoh
:
Pada
pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang dating tanpa permisi”
2)
Sense of smell
Menulis
dengan melibatkan indera penciuman.
Contoh
:
Di
kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu kugantungkan
di langit harapan.
3)
Sense of taste
Menulis
dengan melibatkan indera perasa.
Contoh
:
Ku
kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari kugenggam hp tangan kiriku telah
terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku Bersama centang
satu.
4)
Sense of sight
Menulis
dengan melibatkan indera penglihatan.
Contoh
:
Derit
daun pintu mencekik udara di tengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu
hanya sebagai lamunan.
5)
Sense of hearing
Menulis
dengan melibatkan pendengaran
Contoh
:
Derum
kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening tetapi terasa berat
oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku
untuk tak lagi merinduimu.
Narasumber
memberikan contoh dengan begitu indah :
“Tatapan tajam laptop membustku mskin
berkonsentrasi dengan alunan semilir angin dari kipas maspion di sisiku. Materi
demi materi dilalui merebak jiwa serta pikiranku yang haus akan dunia pena. Semut merah
berjalan didataran kulit tangan kananku dengan santai, untung saja dia tidak
menggunakan gigi mungilnya tersebut untuk menambang tangan ini, kalau tidak pasti tulisan ini tidak akan terbaca
oleh manusia hebat di grup KBMN 28 ini.”
Demikianlah
pemaparan yang diberikan oleh narasumber yang sangat bermanfaat. Terima kasih
atas materi yang hebat ini.
Komentar
Posting Komentar